Selasa, 23 April 2013

SEX BEBAS DI KALANGAN REMAJA DI INDONESIA



SEX BEBAS DI INDONESIA

BEBERAPA waktu lalu, kita dikejutkan oleh sebuah hasil survey yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi (Dinkesprov) Aceh pada 2012 lalu, di mana Kota Lhokseumawe menduduki peringkat pertama terbanyak pelaku seks pranikah di kalangan pelajar, yaitu 70%, menyusul Banda Aceh sebanyak 50% (Serambi, 15/2/2013). 

Tidak hanya itu, dari data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tentang Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia pada 2002-2003, dilaporkan bahwa remaja yang mengaku memiliki teman yang pernah berhubungan seksual sebelum menikah pada usia 14-19 tahun, saat itu masih pada angka 34,7% untuk remaja putri dan 30,9% untuk remaja putra. Sedangkan temuan terakhir sudah menunjukkan peningkatan sampai menyentuh 93.7% (Seputar Indonesia, 24/2/2012). 

Temuan berdasarkan survei atau penelitian semacam ini bukanlah merupakan berita yang menggembirakan. Tapi itulah kenyataan mengemuka yang hadir dalam kehidupan kita. Lunturnya budaya malu dalam diri remaja lebih banyak disebabkan keinginan mereka untuk mendapat pengakuan dari masyarakat bahwa mereka eksis dan pantas untuk dianggap bagian dari masyarakat tersebut. Sehingga hal itu menyebabkan pergeseran nilai-nilai ketimuran yang dianut, termasuk dalam masalah seks di usia remaja. 

 Keretakan stigma 
Dalam pergaulan remaja saat ini bergulir sebuah stigma yang terlanjur ‘diaminkan’ bahwa mereka yang tidak ikut serta dalam pergaulan bebas akan dianggap sebagai sebuah ketertinggalan. Dari petikan perbincangan saya dengan beberapa mahasiswa dan pelajar beberapa waktu lalu mengatakan, bahwa mereka melihat aneh mereka-mereka yang tidak pernah bermalam minggu dengan pasangannya atau pun hanya pergi dengan teman sesama jenisnya saja. 

Ketika saya mencoba mengetengahkan bahwa bukankah seharusnya memang begitu? Maka selanjutnya, sayalah yang mendapat tatapan ‘aneh’ dari mereka. Kesimpulan yang kemudian saya tarik adalah bahwa terkadang kebenaran tanpa dukungan terlihat seperti sebuah kesalahan.

Sadar atau tidak, keretakan stigma seperti di atas sedikit banyak akan berkontribusi pada lahirnya budaya tak malu yang kemudian juga berimbas pada terjadinya perilaku seks bebas. Kita tentunya bertanya-tanya mengapa ketimpangan perilaku tersebut malah menjadi sebuah potret realitas baru yang kemudian diagung-agungkan sebagai sebuah pembenaran di kalangan generasi muda. Bahkan di negeri yang katanya bersyariat itu.

Dan ketika ini ditabalkan pada sebuah negeri dengan segala peraturan syariat Islamnya, termasuk dalam cara duduknya pun, maka ini seperti mengurai benang kusut. Kuatnya arus globalisasi yang melanda seluruh dunia, memberikan tantangan tersendiri terhadap pengokohan moral dalam kehidupan. Apalagi pada kondisi dimana dunia tengah menyaksikan adanya krisis kemanusiaan. Fenomena krisis dunia akibat globalisasi disorot dengan sangat tajam oleh banyak ahli. 

Fritjof Capra (The Turning Point, 2007) menyatakan bahwa krisis global yang serius, telah menyentuh setiap aspek kehidupan, baik secara sosial maupun budaya. Bahkan saat ini krisis tersebut mulai merambah dalam dimensi intelektual, moral dan spiritual; suatu krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam catatan sejarah umat manusia.

Sinyalemen Capra di atas hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak kekhawatiran yang pernah disampaikan oleh banyak kalangan, tentang kondisi krisis kemanusiaan yang tengah melanda dunia saat ini. Dan dikhawatirkan, lambat laun akar-akar nilai dan keyakinan semakin tercabut dari jiwa manusia. Mengutip pernyataan Giddens (2000), akar permasalahannya bukan terjadi dari alam, namun terjadi dari manusia sendiri. 

 Akar ketimpangan
Sebagai generasi muda, sebenarnya saya keberatan ketika hari ini banyak yang melihat remaja sebagai sumber masalah. Misal, penabalan kata kenakalan remaja, pergaulan bebas, dan sebagainya. Tanpa sadar stigma ini sedikit-banyak akan berpengaruh pada kelakuan remaja, karena memang mereka sudah dibentuk dalam stigma yang demikian. Padahal di sisi lain, kita juga perlu melihat remaja sebagai generasi penerus peradaban. Walau dengan melihat kenyataan yang mengemuka hari ini mungkin terlihat sedikit sulit. 

Remaja berasal dari kata Latin: adolensence, yang berari tumbuh menjadi dewasa. Istilah ini mempunyai arti yang lebih luas lagi mencakup kematangan mental, emosional, sosial dan fisik (Hurlock, 1992). Remaja sebenarnya tidak mempunyai tempat yang jelas karena tidak termasuk golongan anak, tetapi tidak juga dewasa atau tua. 

Seperti yang dikemukakan oleh Calon (Monks, dkk: 1994), bahwa masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan, karena ia belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak. Tapi justru pada masa inilah butuh perhatian khusus karena remaja sedang berada pada proses pencarian jati diri. 

Ibarat tubuh, masyarakat terkadang juga bisa ‘sakit’. Dan saat ini, remaja sebagai bagian dari masyarakat sedang berada pada masa itu. Sebagai makhluk yang mempunyai sifat egoisme tinggi, maka remaja mempunyai pribadi yang sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan luar. Seks bebas di kalangan generasi muda pun kian marak terjadi dan menjadi pembicaraan hangat. 

Mengurai ketimpangan tersebut, ada beberapa faktor yang menjadi akar penyebab dari seks bebas itu. Seperti pengaruh dari media massa, pengaruh budaya barat, kurangnya pendidikan agama, dan juga pengabaian dalam keluarga yang kemudian dijadikan sebagai sebuah cerminan. Hal itu menunjukkan bahwa selama ini banyak remaja hanya bisa berkaca pada ‘cermin’ yang retak.

Ada hal yang lebih mengkhawatirkan lagi, yaitu apabila seks bebas telah dinilai sebagai gaya hidup. Bila benar hal tersebut terjadi, maka sinyal yang ada bukan sekedar lampu kuning lagi yang memberi peringatan, melainkan benar-benar patut mendapat perhatian kita semua.

Dan zaman pun sudah semakin tua. Hal-hal yang selama ini dianggap tabu, berpacaran kelewat batas sampai kebablasan melanggar larangan agama (berzina) tidak lagi dipedulikan kalangan generasi muda hari ini. 

Dari itu, fenomena yang mengejutkan ini harusnya menjadi perhatian pemerintah dan semua pihak terkait, termasuk masyarakat terlebih lagi kalangan orang tua dan guru di semua tingkatan. Karena kita tidak bisa menyalahkan kemajuan zaman, sebab ia adalah sebuah tuntutan peradaban. 

Terakhir saya hanya ingin berpesan kepada kaum perempuan pandai-pandailah menjaga dan menghargai diri sendiri, karena kita adalah pihak yang paling dirugikan dari perilaku yang tidak beretika itu. Dan kepada kaum Adam, belajarlah untuk menghargai dan menghormati kaum ibu Anda sendiri!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar